MENGENAL DESA PANGYANGAN

GAMBARAN UMUM DESA PANGYANGAN

Desa pangyangan adalah salah satu Desa di Kecamatan Pekutatan Kabupaten Jembrana dengan luas wilayah 608.820 hektar dengan jumlah penduduk 1718 jiwa yang terbagi menjadi 2 banjar dinas dan 3 banjar adat serta mencakup 2 lahan yaitu ,lahan pertanian dan perkebunan dengan ketinggian 25 meter dari permukaan air laut, beriklim tropis, suhu udara rata-rata berkisar antara 28 sampai 32 Derajat Celcius.

Wilayah Desa pangyangan merupakan dataran rendah dengan struktur tanah lempung berliat, disamping sebagai tempat pemukiman sebagian besar pemanfaatan tanah di Desa pangyangan adalah sebagai lahan pertanian dan perkebunan .

 

SEJARAH DESA PANGYANGAN                      

  Pada awalnya sekitar Tahun 1908 datanglah serombongan orang-orang yang berasal dari Desa Pandak (Tabanan) untuk daerah pemukiman baru ketempat ini, namun oleh karena mereka tidak tahan terhadap serangan penyakit yang mengganas akhirnya tiada berselang lama mereka kembali ke tempat asalnya. Yang tetap tinggal disini adalah yang bernama Nang Munggah beserta keluarganya. Kemudian berselang beberapa bulan datang Rombongan dari Penyaringan dengan Pimpinan Pan Rica, mereka mulai bertani dan membuat pemukiman, namun tak berselang lama wabah penyakit Malaria dan Muntaber kembali menyerang warga bahkan lebih ganas dari sebelumnya. Setiap hari ada saja warga yang meninggal. Karena merasa prihatin dengan hal itu maka Pan Rica mengadakan pertemuan dan berinisiatif untuk mencari seorang Dukun di Tegal Cangkring. Singkat Cerita Dukun itu datang dan memerintahkan agar warga membuat Turus Lumbung di Tempat Pura Kawitan Desa yang Sekarang. Dan beliau berpesan agar tempat pemujaan ini dipelihara dan disungsung selama-lamanya. Oleh karena perkataan Dukun tersebut terbukti dan wabah penyakit tersebut hilang maka mereka berjanji untuk melaksanakan arahan Dukun tersebut dengan penuh keyakinan bahwa tempat tersebut benar-benar angker dan suci serta layak dipergunakan sebagai tempat Pemujaan Ida Sanghyang Widhi Wasa. Sehingga masyarakatpun menyebut tempat itu sebagai tempat “PENGIYANGAN” yang berarti suatu tempat memuja Tuhan dan sebagai tempat Tuhan melimpahkan Rahmat-Nya kepada hambanya. Dengan demikian seluruh wilayah tersebut diberi nama Desa Pengiyangan. Lama kelamaan karena ada peralihan ucapan kata Pengiyangan berubah menjadi “PANGYANGAN”. Perubahan nama kedengarannya lebih manis dan lebih mudah mengucapkannya, sehingga dengan demikian sebutan Pengiyangan hilang sama sekali. Itulah sebabnya Desa Ini disebut DESA PANGYANGAN.

 

 ADAPAPUN SEJARAH KEPEMIMPINAN DI DESA PANGYANGAN diantaranya adalah :

1.      Gurun Sili

2.      Pan Melastra

3.      Pan Kayun

4.      I Dewa Ketut Sira

5.      Pan Gandri

6.      I Ketut Jawi

7.      I Wayan Ruedias ( 1946 -1947 )

8.      I Nyoman Dika ( 1948 - 1952 )

9.      I Made Raka ( 1953 - 1957 )

10.  Nengah Sirta

11.  Pan Darya ( 1958 - 1968 )

12.  I Wayan Jelih ( 1967 - 1971 )

13.  I Made Rekanaya ( 1972 - 1977 )

14.  I Wayan Darya ( 1978 - 1988 )

15.  I Wayan Sulana, SE ( 1988 - 1998 )

16.  I Wayan Wijaya PJS ( 1998 - 1998 )

17.  Ida Bagus Made Putra Astawa ( 1998 - 2006)

18.  I Made Doster PJ ( 2006 - Juni 2017 )

19.  I Made Suardana ( Juni 2007 - Juni 2013 )

20.  I Made Suardana ( Juni 2013 - Juni 2019 )

21.  I Made Dwi Supradnyana, SE. PJ ( Mei 2019 – Desember 2019 )

22.  I Wayan Duwita ( Menjabat sejak Desember 2019-Desember 2025)

POTENSI DESA PANGYANGAN

a.       Pertanian dan Perkebunan

Mata pencaharian penduduk Desa pangyangan sebagian besar sebagai petani yang berkerja di dua subak, yaitu subak sawah dan subak kering. Subak basah yaitu Subak  Pangyangan dengan hasil pertanian seperti Padi,Jagung, Mentimun, Pare dan lainnya. Sedangkan subak kering yaitu subak abian Sarwa Nadi  hasil kebun utama  yaitu  kelapa, coklat, pepaya, cengkeh dan lainnya.

b.      Usaha Kecil dan Menengah

Dalam bidang usaha kecil dan menengah beberapa warga desa pangyangan menjalankan usaha seperti :

·         Kerajinan Patung

·         usaha kacang krisik

·         Usaha produksi tahu

·         Usaha menjahit

·         Usaha serkel dan furniture serta

·         kelompok budi daya ikan gurami

 

c.       Pariwisata

Pantai Pangyangan adalah salah satu obyek wisata yang selalu rame dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun wisatan asing di setiap akhir pekan. Pantai berpasir hitam ini adalah merupakan tempat pavorit untuk bersantai bersama keluarga sambil menikmati pemandangan matahari terbenam di sore hari. Disamping pantai, di desa pangyangan ini juga  telah terdapat wisata kuliner persisnya di Parahita Hill Resto and Agro Pangyangan Pekutatan Jembrana. Salah satu restoran dengan konsep eco and agro yang siap melayani wisatawan domestik maupun mancanegara. yang tak kalah pentingnya resto ini menyuguhkan pemandangan alam yang sangat memukau, dari lokasi resto ini kita pastinya akan bisa melihat hamparan pantai pangyangan yang sangat indah. dan  dari lokasi parahita hill  juga kita bisa melihat jelas pembibitan ternak unggul Sapi Bali. Di lahan seluas 102 hektar, ribuan Sapi Bali dilestarikan dan dimuliabiakan menjadi salah satu ternak unggulan di Indonesia,

 

Seni dan budaya

Terjadi perkembangan seni yang cukup pesat di wilayah desa pangyangan, ditandai dengan munculnya sekeha angklung dan gong di setiap banjar, demikian  pula halnya dengan sekeha baleganjur anak-anak dan remaja mulai bermunculan di setiap banjar berkaitan dengan Festival Ogoh-Ogoh antar Sekeha Teruna-Teruni Banjar  se Desa pangyangan yang dilaksanakan pada perayaan Tawur Kesangan Hari Raya Nyepi .

d.      Olah raga

Upaya untuk menggali potensi olahraga dilaksanakan melalui penyelenggaraan Pekan Olah Raga Desa yang dilaksanakan setiap tahun pada Perayaan Hari Kemerdekaan. Cabang-cabang olah raga yang dipertandingkan dalam Pordes antara lain Footsal, Volley, Hadang, Tajog, Tarompah Panjang, dan lari karung.  Disamping itu juga dipertandingkan juga olah raga hiburan tradisional yaitu Permainan Ceki.